Dalam
ilmu ekonomi, istilah CATERIS PARIBUS
seringkali digunakan sebagai suatu asumsi untuk menyederhanakan beragam
formulasi dan deskripsi dari berbagai anggapan ekonomi. Sebagai
contoh, dapatlah dikatakan bahwa:
" Harga dari
daging sapi akan meningkat — ceteris paribus — bila kuantitas daging sapi yang
diminta oleh pembeli juga meningkat ".
Dari
contoh di atas, bisa kita memahami bahwa penggunaan istilah CATERIS PARIBUS adalah untuk menyatakan
hubungan antara harga dan kuantitas suatu barang (daging sapi). Dalam contoh di
atas hanya mengaitkan variabel “harga daging sapi”
dengan satu variable, yaitu “kuantitas permintaan
daging sapi” .
Kondisi
variabel lain kita asumsikan tetap atau konstan. Variabel-variabel tersebut
misalnya: harga barang substitusi (misalnya
harga daging ayam atau daging kambing), tingkat
penghindaran risiko para pembeli (misalnya ketakutan pada penyakit sapi
gila), atau adanya tingkat permintaan keseluruhan
terhadap suatu barang tanpa memperhatikan tingkat harganya (misalnya
perpindahan masyarakat kepada vegetarianisme).
CATERIS PARIBUS bisa digunakan dalam penentuan
kebijakan yang akan diambil untuk berbagai masalah ekonomi. Karena dengan
asumsi ini kita bisa lebih fokus dengan kepada pemecahan masalah yang
diharapkan.
Tapi,
disamping keuntungan yang bisa kita peroleh dari CATERIS PARIBUS, asumsi ini juga memiliki beberapa kelemahan. Hal
itu dikarenakan asumsi ini hanya terfokus pada satu variabel dan menganggap
variabel lainnya akan mengikuti variabel yang kita tentukan sebelumnya. Padahal
pada kenyataannya variabel lain tersebut belum pasti sama dengan variabel yang
kita tentukan sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar